NABASTALA ( Cinta yang tak tersampaikan )

Oleh : Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I

Kala itu pendar rembulan seakan penuh menerangi wajah seorang laki-laki bernama aksa, wajahnya rupawan dan perangainya yang baik membuat semua orang mengaguminya diam-diam,bahkan banyak santri putri yang mencuri namanya disepertiga malam. Sama seperti kebiasaan santri putri lain yang menyukai aksa ,nabastala juga diam-diam mengintip aksa yang sedang berdoa diharibaan Tuhan,aula putra yang tak memiliki dinding di sisi-sisinya membuat nabastala bisa leluasa menatap aksa walaupun ia harus bersembunyi dibawah jemuran pakaian yang menggantung.dibalik temaram, mata indah milik nabastala memang terus meniti setiap lekuk wajah aksa ,namun hatinya tak berhenti mencecar dirinya sendiri apakah ini adalah cinta atau nafsu belaka? ―mbak lala ngapain disini?‖ ranti yang muncul tiba-tiba membuat nabastala terjingkat lantas dirinya terjatuh karena tak sengaja menginjak ujung mukenah yang ia pakai. Teriakan nabastala membuat aksa berhenti berdoa, dirinya menoleh kearah sumber suara dan mendapati nabastala sedang mengaduh , wajah keduanya kini saling beradu, ada rona merah dipipi nabastala. Ia lantas berlari menuruni tangga untuk masuk kedalam area pondok putri kembali , ranti yang melihat kelakuan nabastala hanya bisa tertawa terpingkal lantas mengikuti langkah nabastala. ―ih bodoh banget si aku ,astaghfirullah, pasti kang aksa tau kalau tadi aku ngintip dia, ya ampun malu banget‖ gerutu nabastala di dalam aula pondok putri Dari arah belakang ranti masih tertawa terbahak-bahak ,membuat nabastala naik pitam. ―awas ya kamu mbak, jail banget sih, kalau kamu nggak ngagetin aku to nggak akan kaya tadi, aku nggak bakal jatuh, hmmm‖ ―alah padahal seneng kan diliatin kang aksa?‖ goda ranti sembari cengengesan ―ih nybelin ,awas ya aku gelitikin nih‖ ranti yang melihat nabastala bersiap ingin mengejarnya membuatnya langsung berlari menuju kamar dan mengunci pintu kamar tepat sebelum nabastala sampai didepan kamarnya ,sehingga membuat nabastala hanya bisa meggerutu diluar kamar.56 Akhirnya nabastala memutuskan untuk masuk ke kamarnya sendiri dan tidur, malam seakan cepat berlalu, suara gaduh dari luar kamar membuat mau tidak mau mimpinya harus terputus begitu saja, mimpi indah yang hilang ini bagai cerita rakyat tentang rembulan yang dimakan raksasa saat gerhana tiba. Mendadak menghilang. ―ada apa sih mbak?‖ tanya nabastala yang masih memakai kerudung asal-asalan karena baru saja bangun dari tidurnya ―kang aksa bawa keluarganya, katanya mau ngelamar salah satu mbak pondok yang ada disini‖ celetuk salah satu dari santri putri yang menggerombol bergosip ―siapa memang yang dilamar?‖ tanya nabastala lagi, ia ingin mendengar dirinyalah yang dimaksudkan namun sayangnya tak ada satupun yang tau siapa yang akan dijodohkan oleh kang aksa Harapan milik nabastala begitu membumbung tinggi, sampai-sampai ia lupa kalau ada saja kemungkinan buruk yang akan diterimanya. Namun cinta membuatnya buta, ia lantas berlari ke lantai dua pondok yang digunakan untuk tempat menjemur pakaian. Hatinya berbuga-bunga, ada harapan yag semakin besar karena ia merasa kang aksa juga menyukainya dari tatapan dan juga sikap kang aksa saat berhadapan dengannya, pemikiran inilah yang membuat nabastala semakin yakin kalau dirinyalah perempuan yang akan dilamar kang aksa. Jantungnya berdebar kencang. Namun itu semua sirna tatkala ia melihat sebuah pesan masuk dari grup whatsapp pondok. Ada sebuah foto dengan ucapan ―barakallah buat kang aksa dan ning ais ,semoga akan dilancarkan sampai hari-H‖ yang dikirim oleh salah satu santri putra. Hatinya seakan mencelos keluar dari posisinya, membuat tubuhnya limbang dan jatuh berdebum ke dasar lantai. Air matanya terus berderai membuat basah beberapa bagian di hijab yang ia pakai. Entah darimana datangnya, tiba-tiba ada sebuah surat yang sudah terlipat jatuh dihadapannya, masih dengan berurai air mata dirinya mencari ke sekeliling, berharap bertemu dengan seseorang yang melemparkan surat itu. nihil. Tak ada siapa pun yang ia lihat disekitar dak jemuran, nabastala membuka lipatan surat itu,membaca kata demi kata yang tertulis didalam surat. ―assalamualaikum mbak lala57 Aku tau perasaanmu kepada kang aksa, apalagi saat ini kang aksa sudah melamar ning ais ,yang mungkin membuat hatimu terluka. Tapi demi Allah mbak, aku sangat ingin melihat mu tersenyum, bukan menangis seperti ini hanya karena seorang laki-laki yang belum menjadi mahram mu. Nabastala berarti langit, dan aku nggak mau langit yang aku inginkan mendung kemudian meluruhkan air mata kepiluan , yang akan membuat hatiku juga terasa sakit. mbak kamu adalah seseorang yang aku harapkan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, bukan karena aku telah menaruh hati padamu, namun karena aku tidak ingin sosokmu yang biasa menjadi panutan oleh semua santri disini hilang hanya karena kamu sedih tidak bisa mendapatkan kang aksa, kamu adalah langit tempat para gemintang memancarkan sinar, kalau langit itu mendung, maka semuanya juga akan sama, dirundung mendung yang bisa kapan saja menumpahkan air matanya. Engkau yang ku harapkan menjadi langitku, aku disini akan mendoakan mu agar kamu bisa mengejar apa yang ingin kamu tuju Wassalamualaikum‖ tertanda sebuah inisial A yang tertulis di pojok kanan bawah surat Setelah membaca surat itu, nabastala teringat akan janjinya dulu, kalau dia akan meraih apa yang ingin menjadi tujuannya selama mondok di pesantren ini. bukan terjebak dalam cinta yang tak mampu direngkuh namun mencoba memperbaiki diri untuk semua orang yang dekat dengannya. Seketika nabastala menghapus airmata dan tersenyum. Dalam gumamnya ia berkata ― maa fii qalbi ghairullah, lahaula wala quwwata illabillahil a‘liyyil a‘dzim‖ nabastala kembali ke aula bawah dengan senyum cerah diwajahnya Dari balik tandon air, seseorang juga ikut tersenyum melihat langitnya yang sudah cerah tak tertutup awan.

Nama        : Maulana Malik Ibrahim, S.Pd.I

TTL           : Tuban, 27 Juni 1986

Alamat      : Pondok Pesantren An-Najma Jalan Kalimasada Gang Arjuna No. 6 Banaran Sekaran Gunungpati Kota Semarang 

No. HP      : 083842339494

Unit Kerja : SDN Sekaran 01

Moto Hidup : Menebar cinta dan kasih sayang kepada seluruh alam semesta raya.